ads

Slider[Style1]

Style2

Madura[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Bocah di Sumenep Hidup di Gubuk Reot Bersama Foto Alm Ibunya

Foto Koran Madura
SUMENEP (BeritaFajar.Co) – Bocah berumur 15 tahun, Achmad Rudi Hartono, bertahan hidup di  gubuk tua di Desa Batuan, Kecamatan Batuan, Kabupaten Sumenep. Gubuk itu merupakan peninggalan ibunya yang sudah meninggal dunia dua tahun yang lalu.

Awalnya, gubuk itu adalah tempat mereka mencari nafkah yang sekaligus jadi tempat berteduh. Namun, saat Tuhan memanggil ibunya (Hanifah), dan bapaknya menikah lagi, ia menjadi lelaki yang mandiri dan hidup di gubuk itu.

Kondisi rumah Rudi sungguh memprihatinkan. Di bangunan dari anyaman bambu berdiamter 4×5 itu hanya terdapat kamar yang sering bocor. Lantainya masih tanah, dan memasak juga masih menggunakan tungku bakar. Kadang memakai gas jika ada uang untuk membeli gas.

Rudi memilih bertahan di gubuk itu bersama foto-foto ibunya. Ia tidak mau tinggal dengan ayahnya yang sudah menikah dengan wanita lain dan memiliki anak dari isteri keduanya.

”Saya tidak mau menyusahkan ayah karena dia sudah memiliki dan memilik keluarga sendiri. Saya tinggal di sini merawat rumah peninggalan ibu,” ujarnya ketika disambangi  di gubuk reotnya.

Bocah Kelas 1 SMAN 2 Sumenep itu, belum tersentuh oleh pemerintah di tengah APBD kita itu 2,1 triliun. Beberapa tetangga dekat ingin memperjuangkan nasibnya dengan cara mengajukan permohonan bedah rumah, namun mereka juga bingung bagaimana caranya.

Ah, jangan bermimpi mendapatkan rumah yang layak dari pemerintah, soal listrik saja, Rudi harus numpang kepada tetangganya sendiri agar lampu di gubuknya tetap menyala dan bisa belajar.

“Listrik menumpang kepada tetangga. Mujur, ia diusahakan oleh salah satu gurunya agar tetap sekolah walaupun hidup sebatangkara,” jelas Eka Ferdiansyah, tetangganya.

Eka menambahkan untuk sampai ke sekolah, Rudi harus menahan rasa tidak enak kepada teman-temannya, terutama sahabat yang dekat dengan rumahnya. Sebab setiap hari ia harus menumpang agar sampai ke sekolah.

“Bahkan sudah terbiasa, ia hanya menjadi penonton saat teman-teman sebanyanya jajan di sekolah, ia harus kuat menelan pahit yang ia rasakan menjadi siswa miskin,” ungkapnya seperti dilansir dari Koran Madura.

Eka terus bercerita tentang derita Rudi. Sejatinya, ia ingin sekali membantunya keluar dari derita yang menggurirta. Hendak cari sumbangan dana ingin memperbaiki rumahnya yg hanya dari anyaman bambu itu seolah menemukan jalan buntu. “Sekarang atap rumahnya sudah mulai hancur diterjang angin. Apalagi ketika hujan, sungguh saya tidak tega melihatnya. Ia harus menunggu belas kasihan dari warga untuk makan,” tegasnya.

Eka pun tidak bisa berbuat apa-apa, hendak diajak ke rumahnya, Rudi selalu menolaknya. Sebab ia tidak mau menyusahkan orang lain. Lebih baik ia menanggung beban sendiri daripada menambah beban orang lain. Eka dan tetangga yang lain selalu mengajaknya tinggal bersama, namun selalu menolak. Ia lebih baik berteman dengan sepi di biliknya yang reot itu daripada memberi beban untuk orang lain.

Derita Rudi mengingatkan kita pada kisah anak yang dikisahkan pada Laskar Pelanginya Andrea Herata. Dalam poisis terjepit, anak-anak itu sungguh memiliki cita-cita tinggi untuk terus belajar dan berjuang untuk sekolah. Rudi pun sebaliknya, ditengah himpitan hidup yang menggurita, ia tetap punya asa untuk bisa bersekolah walaupun menjadi siswa yang aneh di antara siswa-siswa yang lain. Sebab di saat yang lain punya uang saku, Rudi harus berangkat dengan kosong, hanya tas kusut dengan peralatan belajar seadanya. Baginya, yang penting ia tetap sekolah dan bisa menjadi siswa berprestasi. Sehingga ia tetap terus bisa sekolah. (*)

Foto Koran Madura SUMENEP (BeritaFajar.Co) – Bocah berumur 15 tahun, Achmad Rudi Hartono, bertahan hidup di  gubuk tua di Desa Batuan, Keca...

Kadinkes Sumenep Janji Tindak Tegas Dugaan Malapraktek

Kadinkes Sumenep, dr Fatoni (Foto Ahmadi / BeritaFajar)
SUMENEP (BeritaFajar.Co) - Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumenep, Madura, Jawa Timur, dr. Fatoni, berjanji akan memberikan tindakan sesuai dengan peraturan terhadap petugas Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) dan Pondok Bersalin Desa (Polindes), jika terbukti melanggar kode etik kedokteran.

Pernyataan itu muncul, menyusul munculnya informasi dan laporan dari masyarakat beberapa waktu lalu bahwa mendapatkan laporan terkait dugaan malapraktek yang diduga dilakukan oleh bawahannya di salah satu kepulauan Sumenep, Pulau Gili Rajeh.

”Saat ini, kami masih dalam tahap mendalami informasinya, oleh karenanya petugas medis yang bersangkutan kita panggil untuk memberikan keterangan medis," terang Kepala Dinkes Sumenep, dr. Fatoni kepada BeritaFajar.Co, Jumat (17/6/2016).

dr Fatoni menjelaskan, Pekerjaan sebagai petugas kesehatan itu, sangat erat hubungannya dengan nyawa seseorang, sekecil apapun kesalahan dalam mengerjakan tugas maka bisa saja nyawa akan melayang. Oleh karenanya, pihaknya selalu menghimbau kepada seluruh bawahannya untuk dapat bekerja secara profesional.

"Sampai saat ini, kami masih yakin jika tindakan medis yang diberikan oleh bidan FR sudah prosedural. Kita akan cocokkan dulu data tindakan medis yang dilakukan dengan laporan pihak keluaga yang disampaikan,” janjinya.

Dia menjelaskan, akan melakukan pemanggilan tahap kedua nantinya jika ditemukan ada pelanggaran dalam tindakan medis yang dilakukan bawahannya itu. Jika nanti benar-benar ditemukan terdapat pelanggaran, tentu akan diberikan tindakan tegas.

"Kalau memang bener dia (Bidan FR, Red) yang melakukan kesalahan medis terhadap pasien, maka kami akan tindak tegas, bisa-bisa dicabut izin prakteknya atau tindakan lain sesuai prosedur yang berlaku," pungkasnya saat ditemui diruang kerjanya. (*)

Pewarta : Ahmadi

Kadinkes Sumenep, dr Fatoni (Foto Ahmadi / BeritaFajar) SUMENEP (BeritaFajar.Co) - Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumenep, Madura, Jawa Tim...

Bawa Handak 2 Kg, Warga Sumenep Diamankan Petugas

Tersangka di Mapolres Sumenep. (Foto : KBRN)
SUMENEP (BeritaFajar.Co) - Satuan Petugas Operasi cara menangani mercon (camer) Semeru 2016 Polres Sumenep, mengamankan tersangka SK (35) karena diduga membawa dan menyimpan bahan peledak (mercon) di Jalan Raya Desa Tengeden Kecamatan Batu Putih Kabupaten Sumenep, Madura.

Kapolres Sumenep AKBP Rendra Radita Dewayana melalui Kasubag Humas AKP Hasanudin mengungkapkan, penangkapan itu berawal ketika Satgas Ops Camer Semeru 2016 melakukan penyelidikan terkait peredaran bahan peledak ke Kecamatan Batu Putih.

“Setelah itu anggota kami mendapat informasi dari masyarakat, bahwa SK yang merupakan warga Dusun Paolasang Desa Kolpo Kecamatan Batang – Batang sering menjual bubuk mesiu yang sering digunakan untuk membuat mercon,” terangnya, Kamis (16/6/2016).

Selanjutnya, lanjut AKP Hasanudin, Satgas mendatangi tersangka yang kebetulan melintas di jalan raya Desa Tangedan Kecamatan Batu Putih dan membawa plastik berwarna hitam. Setelah diperiksa isi dari plastik tersebut ternyata berisi serbuk mesiu.

“Dari tangan tersangka kami amankan bubuk berwaran abu – abu seberat 2,25 Kg yang diduga merupakan mesiu yang siap diedarkan untuk membuat mercon. Selanjutnya tersangka kami gelandang ke Mapolres Sumenep ,” papar Hasanudin, seperti dikutip dari KBRN.

Saat ini SK yang sehari – hari bekerja sebagai petani itu tengah diperiksa oleh penyidik Polres Sumenep guna proses penyidikan lebih lanjut. Sementara untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya tandas mantan Kapolsek Manding itu, SK dijatuhi pasal 1 ayat 1 UU Darurat no 12 tahun 1951 dengan ancaman hukuman kurungan maksimal 12 tahun.

“Target dari Satgas Ops Camer Semeru 2016 yakni miras, judi, premanisme dan bahan peledak,” pungkasnya. (*)

Tersangka di Mapolres Sumenep. (Foto : KBRN) SUMENEP (BeritaFajar.Co) - Satuan Petugas Operasi cara menangani mercon (camer) Semeru 2016 Pol...

Cuaca Ekstrim, BMKG Sumenep Warning Nelayan Berhati-Hati

Perahu bersandar di pesisir pantai Sumenep. (Foto : BeritaFajar.Co)
SUMENEP (BeritaFajar.Co) - Ratusan perahu nelayan di pesisir pantai utara Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, mulai mengungsi ke dermaga lain. Mereka mengungsikan perahunya ke dermaga lain karena  untuk menghindari kerasnya hantaman ombak di pesisir pantai.

Salah satunya yang menjadi tempat sandar perahu, adalah ke Dermaga Bintaro, di Kecamatan Dungkek, Sumenep. Ratusan perahu nelayan itu, diungsikan sementara di dermaga ini hingga menunggu cuaca membaik.

Salah satu warga setempat, Mulyadi, mengatakan, kondisi cuaca buruk sudah berlangsung beberapa hari lalu. Sehingga, para nelayan menyandarkan perahunya di dermaga karena sudah tidak bisa melaut.

”Kalau sudah cuaca seperti sekarang, tidak ada kerjaan. Mau kerja gimana, wong ketika mencari ikan juga sulit mendapatkannya. Bahkan, kalau maksa cari ikan, tentu sangat membahayakan keselamatan kita,” terangnya, Selasa (15/6/2016).

Sementara, Kepala Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kalianget, Sumenep, Amat Subekti mengatakan, diharapkan kepada masyarakat terutama nelayan untuk lebih berhati-hati karena cuaca buruk.

”Kalau di nelayan misalkan ke Kangean atau cari ikan di sana hati-hati karena gelombangnya masih besar. Kemungkinan ini akan berlangsung hingga 17 juni 2016,” terangnya. (*)

Sumber : Sumeneptimes.com

Perahu bersandar di pesisir pantai Sumenep. (Foto : BeritaFajar.Co) SUMENEP (BeritaFajar.Co) - Ratusan perahu nelayan di pesisir pantai uta...

Jad, Si Anak Yahudi Mengislamkan Enam Juta Orang

Muslim Kenya (repbulika.co.id)  
BeritaFajar.Co - Jad adalah seorang pria keturunan Yahudi. Di pertengahan hidupnya, ia memeluk agama Islam. Setelah bersyahadat, ia mengubah namanya menjadi Jadullah Al-Qur'ani.

Jad pun memutuskan hidupnya untuk berkhidmat dalam dakwah Islamiyah. Dia berdakwah ke negara-negara Afrika dan berhasil mengislamkan jutaan orang.

Sejatinya, Ibunda Jadullah adalah Yahudi fanatik, seorang dosen di salah satu lembaga tinggi. Namun di tahun 2005, dua tahun setelah kematian Jadullah, ibunya memeluk agama Islam.

Ibunda Jadullah menuturkan, putranya menghabiskan usianya dengan berdakwah. Dia mengaku telah melakukan beragam cara untuk mengembalikan putranya pada agama Yahudi. Namun, selalu gagal.

''Mengapa seorang Ibrahim yang tidak berpendidikan dapat mengislamkan putraku,'' ujar sang ibu terheran-heran. Sedangkan dia yang berpendidikan tinggi tak mampu menarik hati putranya sendiri kepada agama Yahudi.

                                                                        ***

Kisah Jad dan Ibrahim

Lima puluh tahun lalu di Prancis, Jad bertetangga dengan seorang pria Turki berusia 50 tahun. Pria tersebut bernama Ibrahim. Ia memiliki toko makanan yang letaknya di dekat apartemen tempat keluarga Jad tinggal. Saat itu usia Jad baru tujuh tahun.

Jad seringkali membeli kebutuhan rumah tangga di toko Ibrahim. Setiap kali akan meninggalkan toko, Jad selalu mengambil coklat di toko Ibrahim tanpa izin alias mencuri.

Pada suatu hari, Jad lupa tak mengambil coklat seperti biasa. Tiba-tiba, Ibrahim memanggilnya dan berkata bahwa Jad melupakan coklatnya. Tentu saja Jad sangat terkejut, karena ternyata selama ini Ibrahim mengetahui coklatnya dicuri. Jad tak pernah menyadari hal tersebut, dia pun kemudian meminta maaf dan takut Ibrahim akan melaporkan kenakalannya pada orang tua Jad.

"Tak apa. Yang penting kamu berjanji tidak akan mengambil apapun tanpa izin. Lalu, setiap kali kamu keluar dari sini, ambillah cokelat, itu semua milikmu!" ujar Ibrahim. Jad pun sangat gembira.

Waktu berlalu, tahun berubah. Ibrahim yang seorang Muslim  menjadi seorang teman bahkan seperti ayah bagi Jad, si anak Yahudi. Sudah menjadi kebiasaan Jad, dia akan berkonsultasi pada Ibrahim setiap kali menghadapi masalah.

Dan setiap kali Jad selesai bercerita, Ibrahim selalu mengeluarkan sebuah buku dari laci lemari, memberikannya pada Jad dan menyuruhnya membuka buku tersebut secara acak. Saat Jad membukanya, Ibrahim kemudian membaca dua lembar dari buku tersebut kepada Jad dan memberikan saran dan solusi untuk masalah Jad. Hal tersebut terus terjadi.

Hingga berlalu 14 tahun, Jad telah menjadi seorang pemuda tampan berusia 24 tahun. Sementara Ibrahim telah berusia 67 tahun.

Hari kematian Ibrahim pun tiba. Namun sebelum meninggal, dia telah menyiapkan kotak berisi buku yang selalu dia baca acapkali Jad berkonsultasi. Ibrahim menitipkannya kepada anak-anaknya untuk diberikan kepada Jad sebagai sebuah hadiah.

Mendengar kematian Ibrahim, Jad sangat berduka dan hatinya begitu terguncang. Karena selama ini, Ibrahim satu-satunya teman sejati bagi Jad, yang selalu memberikan solusi atas semua masalah yang dihadapinya.

Selama 17 tahun, Ibrahim selalu mempelakukan Jad dengan baik. Dia tak pernah memanggil Jad dengan "Hei Yahudi" atau "Hei kafir" bahkan Ibrahim pun tak pernah mengajak Jad kepada agama Islam.

                                                                               ***

Hari berlalu, setiap kali tertimpa masalah, dia selalu teringat Ibrahim. Jad pun kemudian mencoba membuka halaman buku pemberian Ibrahim. Namun, buku tersebut berbahasa arab, Jad tak bisa membacanya. Ia pun pergi menemui salah satu temannya yang berkebangsaan Tunisia. Jad meminta temannya tersebut untuk membaca dua lembar dari buku tersebut. Persis seperti apa yang biasa Ibrahim lakukan untuk Jad.

Teman Jad pun kemudian membaca dan menjelaskan arti dua lembar dari buku yang dia baca kepada Jad. Ternyata, apa yang dibaca sangat pas pada masalah yang tengah dihadapi Jad. Temannya pun memberikan solusi untuk masalah Jad.

Rasa keingin tahuannya terhadap buku itu pun tak bisa lagi dibendung. Ia pun menanyakan pada kawannnya, "Buku apakah ini?" tanyanya. Temannya pun menjawab, "Ini adalah Alquran, kitab suci umat Isam," ujarnya.

Jad tak percaya sekaligus merasa kagum. Jad pun kembali bertanya, "Bagaimana cara menjadi seorang Muslim?"

Temannya menjawab, "Dengan mengucapkan syahadat dan mengikuti syariat." Kemudian, Jad pun memeluk agama Islam.

Setelah menjadi Muslim, Jad mengubah namanya menjadi Jadullah Al-Qur'ani. Nama tersebut diambil sebagai ungkapan penghormatan kepada Al-Qur'an yang begitu istimewa dan mampu menjawab semua permasalahan hidupnya selama ini.

Sejak itu, Jad memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupya untuk menyebarkan ajaran yang ada pada Alquran.

Suatu hari, Jadullah membuka halaman Alquran pemberian Ibrahim dan menemukan sebuah lembaran. Lembaran tersebut bergambar peta dunia, ditandatangani Ibrahim dan bertuliskan ayat An-Nahl 125.

"Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik..."  Jad pun kemudian yakin bahwa lembaran tersebut merupakan keinginan Ibrahim untuk dilaksanakan oleh Jad.

Jadullah pun meninggalkan Eropa dan pergi berdakwah ke negara-negara Afrika. Salah satu negara yang dikunjunginya yakni Kenya, di bagian selatan Sudan dimana mayoritas penduduk negara tersebut beragama Kristen.

Jadullah berhasil mengislamkan lebih dari enam juta orang dari suku Zolo. Jumlah ini hanya dari satu suku tersebut, belum lagi suku lain yang berhasil dia Islamkan. Subhanallah.

sumber : republika.co.id

Muslim Kenya (repbulika.co.id)   BeritaFajar.Co - Jad adalah seorang pria keturunan Yahudi. Di pertengahan hidupnya, ia memeluk agama Islam...

⬆
Top