ads

Slider[Style1]

Style2

Madura[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Andai Waktu Itu Bukan Gus Dur Jadi Presiden, Indonesia Hancur Berantakan

KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
BERIKUT merupakan kisah nyata sebelum KH Abdurrahman Wahid atau biasa disapa Gus Dur menjadi Presiden RI. Kala itu, Gus Dur sudah memprediksi bahwa akan menjadi presiden tidak akan lama, sebentar. Tetapi menyelamatkan Indonesia dari kehancuran.

Pembaca Berita Fajar yang budiman, boleh percaya boleh tidak. Namun, apa yang disampaikan Gus Dur sekarang menjadi nyata. Tidak heran sebelum beliau menghembuskan nafas terakhir, ketika dikatakan bahwa lawatan ke luar negeri yang mencapai 170 kali disebut menggunakan aji mumpung. Tapi apa jawaban Gus Dur : biarkan saja meraka, toh nanti sejarah yang membuktikan.  

===========

Di akhir tahun 1998 Gus Dur rawuh (datang) di Wonosobo. Saat itu sedang ramainya era reformasi, beberapa bulan setelah Pak Harto jatuh. Dan ini terjadi beberapa bulan sebelum Gus Dur menjadi orang nomer satu di Negeri ini. Beliau masih menjabat sebagai Ketua PBNU.

Bertempat di Gedung PCNU Wonosobo, Gus Dur mengadakan pertemuan dengan pengurus NU dari Wonosobo, Banjarnegara, Pubalingga, Kebumen, Temanggung dan Magelang. Tentu saja semua kiai ingin tahu pendapat Gus Dur tentang situasi politik terbaru. Penulis hadir di situ walaupun bukan kiai, dan duduk persis di depan Gus Dur. Penulis lah yang menuntun Gus Dur menaiki Lantai 2 PCNU Wonosobo.

“Pripun Gus situasi politik terbaru?” tanya seorang kiai.

“Orde Baru tumbang, tapi Negeri ini sakit keras” kata Gus Dur.

“Kok bisa Gus?”

“Ya bisa, wong yang menumbangkan Orde Baru pakainya emosi dan ambisi tanpa perencanaan yang jelas. Setelah tumbang mereka bingung mau apa, sehingga arah reformasi gak genah. Bahkan Negeri ini di ambang kehancuran, di ambang perang saudara. Arah politik Negeri ini sedang menggiring Negeri ini ke pinggir jurang kehancuran dan separatisme. Lihat saja, baru berapa bulan Orde Reformasi berjalan, kita sudah kehilangan propinsi ke-27 kita, yaitu Timor Timur” kata Gus Dur.

Kiai tersebut sebagaimana biasa, kalau belum mulai bicara. Pak Habibi, kita semua akan merasa kasihan dengan sikap Gus Dur yang datar dan seperti capek sekali dan seperti aras-arasen bicara. Tapi kalau sudah mulai, luar biasa memikat dan ruangan jadi sepi kayak kuburan, tak ada bunyi apapun selain pangendikan Gus Dur.

Seorang kiai penasaran dengan calon presiden devinitif pengganti Pak Habibi yang hanya menjabat sementara sampai sidang MPR. Ia bertanya: “Gus, terus siapa yang paling pas jadi Presiden nanti Gus?”

“Ya saya, hehehe” kata Gus Dur datar

Semua orang kaget dan menyangka Gus Dur guyon seperti biasanya yang memang suka guyon

“Yang bisa jadi presiden di masa seperti ini ya hanya saya kalau Indonesia gak pingin hancur. Dan saya sudah dikabari kalau-kalau saya mau jadi presidan walau sebentar, hehehe…” kata Gus Dur mantab

“Siapa yang ngabari dan yang nyuruh Gus?” tanya seorang kiai

“Gak usah tahu. Orang NU tugasnya yakin saja bahwa nanti presidennya pasti dari NU” kata Gus Dur masih datar seperti guyon

Orang yang hadir di ruangan itu bingung antara yakin dan tidak yakin mengingat kondisi fisik Gus Dur yang demikian. Ditambah lagi masih ada stok orang yang secara fisik lebih sehat dan berambisi jadi presiden, yaitu Amin Rais dan Megawati. Tapi tidak ada yang berani mengejar pertanyaan tentang presiden RI

Kemudian Gus Dur menyambung: “Indonesia dalam masa menuju kehancuran. Separatisme sangat membahayakan. Bukan separatismenya yang membahayakan, tapi yang memback up di belakangnya. Negara-negara Barat ingin Indonesia hancur menjadi Indonesia Serikat, maka mereka melatih para pemberontak, membiayai untuk kemudian meminta merdeka seperti Timor Timur yang dimotori Australia”

Sejenak sang Kiai tertegun. Dan sambil membenarkan letak kacamatanya ia melanjutkan: “Tidak ada orang kita yang sadar bahaya ini. Mereka hanya pada ingin menguasai Negeri ini saja tanpa perduli apakah Negeri ini cerai-berai atau tidak. Maka saya harus jadi presiden, agar bisa memutus mata rantai konspirasi pecah-belah Indonesia. Saya tahu betul mata rantai konspirasi itu. RMS dibantu berapa Negara, Irian Barat siapa yang back up, GAM siapa yang ngojok-ojoki, dan saya dengar beberapa propinsi sudah siap mengajukan memorandum. Ini sangat berbahaya”

Kemudiaan ia menarik nafas panjang dan melanjutkan: “Saya mau jadi presiden. Tetapi peran saya bukan sebagai pemadam api. Saya akan jadi pencegah kebakaran dan bukan pemadam kebakaran. Kalau saya jadi pemadam setelah api membakar Negeri ini, maka pasti sudah banyak korban. Akan makin sulit. Tapi kalau jadi pencegah kebakaran, hampir pasti gak akan ada orang yang menghargainya. Maka, mungkin kalaupun jadi presiden saya gak akan lama, karena mereka akan salah memahami langakah saya”

Seakan mengerti raut wajah bingung para kiai yang menyimak, Gus Dur pun kembali selorohkan pemikirannya. “Jelasnya begini, tak kasih gambaran,” kata Gus Dur menegaskan setelah melihat semua hadirin tidak mudeng dan agak bingung dengan tamsil Gus Dur.

“Begini, suara langit mengatakan bahwa sebuah rumah akan terbakar. Ada dua pilihan, kalau mau jadi pahlawan maka biarkan rumah ini terbakar dulu lalu datang membawa pemadam. Maka semua orang akan menganggap kita pahlawan. Tapi sayang sudah terlanjur gosong dan mungkin banyak yang mati, juga rumahnya sudah jadi jelek. Kita jadi pahlawan pemyelamat yang dielu-elukan”

Kemudian lanjutnya: “Kedua, preventif. Suara langit sama, rumah itu mau terbakar. Penyebabnya tentu saja api. Ndilalah jam sekian akan ada orang naruh jerigen bensin di sebuah tempat. Ndilalah angin membawa sampah dan ranggas ke tempat itu. Ndilallah pada jam tertentu akan ada orang lewat situ. Ndilalah dia rokoknya habis pas dekat rumah itu. Ndilalalah dia tangan kanannya yang lega. Terus membuang puntung rokok ke arah kanan dimana ada tumpukan sampah kering.”

Lalu ia sedikit memajukan duduknya, sambil menukas: “Lalu ceritanya kalau dirangkai jadi begini; ada orang lewat dekat rumah, lalu membuang puntung rokok, puntung rokok kena angin sehingga menyalakan sampah kering, api di sampah kering membesar lalu menyambar jerigen bensin yang baru tadi ditaruh di situ dan terbakarlah rumah itu.”

“Suara langit ini hampir bisa dibilang pasti, tapi semua ada sebab-musabab. Kalau sebab di cegah maka musabab tidak akan terjadi. Kalau seseorang melihat rumah terbakar lalu ambil ember dan air lalu disiram sehingga tidak meluas maka dia akan jadi pahlawan. Tapi kalau seorang yang waskito, yang tahu akan sebab-musabab, dia akan menghadang orang yang mau menaruh jerigen bensin, atau menghadang orang yang merokok agar tidak lewat situ, atau gak buang puntung rokok di situ sehingga sababun kebakaran tidak terjadi.”

Sejenak semua jamaah mangguk-mangguk. Kemudian Gus Dur melanjutkan: “Tapi nanti yang terjadi adalah, orang yang membawa jerigen akan marah ketika kita cegah dia naruh jerigen bensin di situ: “Apa urusan kamu, ini rumahku, bebas dong aku naruh di mana?” Pasti itu yang akan dikatakan orang itu”

“Lalu misal ia memilih menghadang orang yang mau buang puntung rokok agar gak usah lewat situ, Kita bilang: “Mas, tolong jangan lewat sini dan jangan merokok. Karena nanti Panjenengan akan menjadi penyebab kebakaran rumah itu”

Apa kata dia: “Dasar orang gila, apa hubungannya aku merokok dengan rumah terbakar? Lagian mana rumah terbakar?! Ada-ada saja orang gila ini. Minggir! saya mau lewat”

Kini makin jelas arah pembicaraannya dan semua yang hadir makin khusyuk menyimak. “Nah, ini peran yang harus diambil NU saat ini. Suara langit sudah jelas, Negeri ini atau rumah ini akan terbakar dan harus dicegah penyebabnya. Tapi resikonya kita tidak akan popular, tapi rumah itu selamat. Tak ada selain NU yang berpikir ke sana. Mereka lebih memilih: “Biar saja rumah terbakar asal aku jadi penguasanya, biar rumah besar itu tinggal sedikit asal nanti aku jadi pahlawan maka masyarakat akan memilihku jadi presiden”

“Poro Kiai ingkang kinormatan” kata Gus Dur kemudian

“Kita yang akan jadi presiden, itu kata suara langit. Kita gak usah mikir bagaimana caranya. Percaya saja, titik. Dan tugas kita adalah mencegah orang buang puntung rokok dan mencegah orang yang kan menaruh bensin. Padahal itu banyak sekali dan ada di banyak negara. Dan pekerjaan itu secara dzahir sangat tidak popular, seperti ndingini kerso. Tapi harus kita ambil. Waktu yang singkat dalam masa itu nanti, kita gak akan ngurusi dalam Negeri”

“Kita harus memutus mata rantai pemberontakan Gerakan Aceh Merdeka di Swiss, kita harus temui Hasan Tiro. Tak cukup Hasan Tiro, presiden dan pimpinan-pimpinan negara yang simpati padanya harus didekati. Butuh waktu lama,” lanjut Gus Dur

“Belum lagi separatis RMS (Republik Maluku Sarani) yang bermarkas di Belanda, harus ada loby ke negara itu agar tak mendukung RMS. Juga negara lain yang punya kepentingan di Maluku,” kata Gus Dur kemudian

“Juga separatis Irian Barat Papua Merdeka, yang saya tahu binaan Amerika. Saya tahu anggota senat yang jadi penyokong Papua Merdeka, mereka membiayai gerakan separatis itu. Asal tahu saja, yang menyerang warga Amerika dan Australia di sana adalah desain mereka sendiri”

Kemudian Gus Dur menarik nafas berat, sebelum melanjutkan perkataan berikutnya. “Ini yang paling sulit, karena pusatnya di Israel. Maka, selain Amerika saya harus masuk Israel juga. Padahal waktu saya sangat singkat. Jadi mohon para kiai dan santri banyak istighatsah nanti agar tugas kita ini bisa tercapai. Jangan tangisi apapun yang terjadi nanti, karena kita memilih jadi pencegah yang tidak populer. Yang dalam Negeri akan diantemi sana-sini”

Sekonyong beliau berdiri, lalu menegaskan perkataan terakhirnya: “NKRI bagi NU adalah Harga Mati!”

“Saya harus pamit karena saya ditunggu pertemuan dengan para pendeta di Jakarta, untuk membicarakan masa depan negara ini. Wasalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…” tutup Gus Dur

Tanpa memperpanjang dialog, Gus Dur langsung pamit. Kita bubar dengan benak yang campur-aduk, antara percaya dan tidak percaya dengan visi Gus Dur. Antara realitas dan idealitas, bahwa Gus Dur dengan sangat tegas di hadapan banyak kiai bahwa dialah yang akan jadi presiden. Terngiang-ngiang di telinga kami dengan seribu tanda tanya

Menghitung peta politik, rasanya gak mungkin. Yang terkuat saat itu adalah PDIP yang punya calon mencorong Megawati putri presiden pertama RI yang menemukan momentnya. Kedua, masih ada Partai Golkar yang juga Akbar Tanjung siap jadi presiden. Di kelompok Islam modern ada Amien Rais yang juga layak jadi presiden, dan dia dianggap sebagian orang sebagai pelopor Reformasi

Maka kami hanya berpikir bahwa, rasional gak rasional, percoyo gak percoyo ya percoyo aja apa yang disampaikan Gus Dur tadi. Juga tentang tamsil rumah tebakar tadi. Sebagian besar hadirin agak bingung walau mantuk-mantuk karena gak melihat korelasinya NU dengan jaringan luar negeri

Sekitar 3 bulan kemudian, Subhanallah, safari ke luar ternyata Gus Dur benar-benar jadi Presiden. Dan Gus Dur juga benar-benar bersafari ke luar negeri seakan maniak plesiran. Semua negara yang disebutkan di PCNU Wonosobo itu benar-benar dikunjungi. Dan reaksi dalam negeri juga persis dugaan Gus Dur saat itu bahwa Gus Dur dianggap foya-foya, menghamburkan duit negara untuk plesiran. Yang dalam jangka waktu beberapa bulan sampai 170 kali lawatan. Luar biasa dengan fisik yang (maaf) begitu, demi untuk sebuah keutuhan NKRI

Pernah suatu ketika Gus Dur lawatan ke Paris (kalau kami tahu maksudnya kenapa ke Paris). Dalam negeri, para pengamat politik dan politikus mengatakan kalau Gus Dur memakai aji mumpung. Mumpung jadi presiden pelesiran menikmati tempat-tempat indah dunia dengan fasilitas negara

Apa jawab Gus Dur: “Biar saja, wong namanya wong ora mudeng atau ora seneng. Bagaimana bisa dibilang plesiran wong di Paris dan di Jakarta sama saja, gelap gak lihat apa-apa, koq dibilang plesiran. Biar saja, gitu aja koq repot!”

Masih sangat teringat bahwa pengamat politik yang paling miring mengomentrai lawatan Gus Dur sampai masa Gus Dur lengser adalah Alfian Andi Malarangeng, mantan Menpora. Tentu warga NU gak akan lupa sakit hatinya mendengar ulasan dia. Sekarang terimalah balasan dari Tuhan

Satu-satunya pengamat politik yang fair melihat sikap Gus Dur, ini sekaligus sebagai apresiasi kami warga NU, adalah Hermawan Sulistyo, atau sering dipanggil Mas Kiki. terimakasih Mas Kiki

Kembali ke topik. Ternyata orang yang paling mengenal sepak terjang Gus Dur adalah justru dari luar Islam sendiri. Kristen, Tionghoa, Hindu, Budha dll. mereka tahu apa yang akan dilakukan Gus Dur untuk NKRI ini. Negeri ini tetap utuh minus Timor Timur karena jasa Gus Dur. Beliau tanpa memikirkan kesehatan diri, tanpa memikirkan popularitas, berkejaran dengan sang waktu untuk mencegah kebakaran rumah besar Indonesia

Dengan resiko dimusuhi dalam negeri, dihujat oleh separatis Islam dan golongan Islam lainnya, Gus Dur tidak perduli apapun demi NKRI tetap utuh. Diturunkan dari kursi presiden juga gak masalah bagi beliau walau dengan tuduhan yang dibuat-buat. Silakan dikroscek data ini. Lihat kembali keadaan beberapa tahun silam era reformasi baru berjalan, beliau sama sekali gak butuh gelar “Pahlawan”.

Sumber  : Nur Chalis
      : muslimoderat.com

KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) BERIKUT merupakan kisah nyata sebelum KH Abdurrahman Wahid atau biasa disapa Gus Dur menjadi Presiden RI. Ka...

Kisah Pria Pemecah Batu Hidupi Puluhan Anak Yatim Piatu

Rono (tengah berpeci putih) di antara anak yatim piatu yang diasuhnya. (Foto Kompas.com)
JAKARTA (BeritaFajar.Co) – Salah satu pria, Surono (58), kelahiran Kebumen, Jawa Tengah,  pada tahun 1958, berangkat ke Ibu Kota Jakarta untuk mencari nafkah agar bisa membantu ekonomi orang tuanya, yang berada di tanah kelahirannya.  

Surono menceritakan, awalnya tertarik pergi ke Jakarta setelah melihat teman-temannya sukses mencari rezeki di Ibu Kota Jakrta. Kini, ia menempati sepetak kontrakan di Jl Cipinang Jaya IIB, RT 3/RW 9, Cipinang Besar Selatan, Jatinegara, Jakarta Timur.

Pada tahun 1973, ia mendapatkan tawaran menjadi pembantu rumah tangga di rumah pengusaha toko bangunan di sekitar Rawamangun. Tanpa berfikir panjang, ia pun langsung menerima tawaran itu. "Ya sudah, yang penting saya sampai Jakarta, ke Jakarta gratis lagi," ujar Surono seraya kembali mengingat masa lalunya.

Setelah beberapa lama bekerja menjadi pembantu toko, Rono pun 'naik pangkat'. Kali ini dia ditugaskan sebagai penarik gerobak di toko bangunan milik majikannya. Hidup sendiri membuat Rono ingin segera menikah. Perempuan yang menjadi idamannya adalah pelayan yang juga bekerja di tempat tersebut.

"Iya setiap hari ketemu lama-lama saling suka, dan bos akhirnya tahun, 1977 saya dinikahkan," kata Rono.

Satu tahun berselang dari pernikahannya, istrinya mengandung. Namun menjelang usia kandungan menginjak 7 bulan, sang istri sakit darah tinggi. "Saya berobat ke mana-mana biar istri saya sembuh, tapi Allah berkata lain, dia pulang terlebih dahulu sama anak saya," jelas Rono.

Hingga tiga kali menikah, Rono tak mendapatkan keturunan. Memasuki tahun 1994, penglihatan mulai berkurang. Dalam keterbatasan, Rono sempat berpikir untuk menjadi pengemis di lampu merah. Namun dia tetap bertahan untuk tidak melakukannya.

Karena tidak mau berdiam diri dalam keterbatasan, pada tahun 2008 Rono berjualan telur asin keliling. Setiap paginya dia berjalan ke pasar pagi Rawamangun untuk membeli telur asin yang kemudian Rono jual dengan cara berkeliling kampung.

Namun, usaha untuk mendapatkan nafkah ini berakhir dengan cerita lain. Jualannya lesu. "Mungkin masyarakat sudah bosan kali ya setiap hari saya keliling bawa telur asin," jelasnya.

Ia pun mengubah haluannya dengan berdagang pisang keliling. Ternyata usaha ini pun juga berakhir dengan kisah yang sama, yakni tak sukses.

Suatu ketika Rono sedang pulang berjualan pisang di dekat rumahnya Rono tersandung batu yang membuat Rono langkah kakinya terhenti dan terjatuh. Sambil meraba ada apa yang membuat dirinya terjatuh, Rono merasakan bahwa itu adalah sisa-sisa batako pecah di toko bangunan.

"Saya jatuh karena bebatuan itu, saya pikir dan termenung mungkin inilah jalan Yang Maha Kuasa untuk saya dalam memperoleh rezeki," ujarnya.

Keesokan harinya Rono mulai berhenti berdagang. Rutinitasnya sehari-hari sekarang sebagai pemecah batu bata sisa-sisa di depan toko bangunan, yang terletak di sekitaran Cipinang.

Dengan palu sebagai alat kejanya setiap pagi ia datang menuju lokasi tempat mencari nafkah, sisa batu bata dan batako yang sudah rusak dan tidak dijual ia hancurkan perlahan hingga halus dan dimasukkan dalam karung.

"Saya sekarang mencari berkahnya saja, jam 7 pagi saya mulai pecah batu dan jam 11 pulang sholat makan, nanti abis Ashar sampai jam 5 kerja lagi" ujar Rono.

Batu bata dan batako itu ia haluskan perlahan, dengan 'indra' penglihatan yang tak ada, ia cukup terampil dalam memecahkan batu, dihancurkan satu per satu hingga menjadi keping-keping kecil. Batu-batu kecil itu dia masukkan dalam karung. Satu karungnya seberat 50 kilogram.

Dengan pekerjaannya itu, Rono selalu bersyukur, bahwa dia masih bisa mencari nafkah dan tidak mengemis. Selain itu, puluhan tahun mendambakan keturunan namun juga didapat, Rono masih berprasangka baik kepada Allah.

Di tengah-tengah keterbatasannya, Rono kini amat bahagia karena menjadi anak-anak asuh yatim piatu di sekitarnya. Bermula hanya 2 orang anak yatim, kini Rono memiliki 65 anak yatim, semuanya sangat dekat dengan dirinya. Ketika berkumpul dan bertegur sapa setiap anak yang datang pasti bersalaman dengan Rono.

"Dulu cuma sedikit, cuma ada dua orang, tapi Alhamdulillah sekarang bisa berbagi," ucapnya.

Rono selalu memberikan nasihat dan doa-doa terbaik pada anak yatimnya agar mereka kelak menjadi orang yang berguna dan berakhlak mulia terhadap diri sendiri dan juga kepada sesama.

Di momen Ramadan ini ia kerap berkumpul dengan anak-anak yatimnya untuk sekedar berbagi rezeki dan memanjatkan doa bersama.

Kini, Rono menjadi bapak di antara puluhan anak yatimnya. Ia tak pernah menyangka bahwa ia diberikan pelajaran yang amat berharga oleh Yang Maha Kuasa.

Ketika indra tak lagi melihat, ia berubah menjadi diri yang lebih baik dari sebelumnya, ternyata ia tersadar bahwa bersyukurlah kepada sang Illahi menjadi kunci kebahagiaan yang kekal. (*)

Sumber : Kompas.com

Rono (tengah berpeci putih) di antara anak yatim piatu yang diasuhnya. (Foto Kompas.com) JAKARTA (BeritaFajar.Co) – Salah satu pria, Surono ...

Bocah di Sumenep Hidup di Gubuk Reot Bersama Foto Alm Ibunya

Foto Koran Madura
SUMENEP (BeritaFajar.Co) – Bocah berumur 15 tahun, Achmad Rudi Hartono, bertahan hidup di  gubuk tua di Desa Batuan, Kecamatan Batuan, Kabupaten Sumenep. Gubuk itu merupakan peninggalan ibunya yang sudah meninggal dunia dua tahun yang lalu.

Awalnya, gubuk itu adalah tempat mereka mencari nafkah yang sekaligus jadi tempat berteduh. Namun, saat Tuhan memanggil ibunya (Hanifah), dan bapaknya menikah lagi, ia menjadi lelaki yang mandiri dan hidup di gubuk itu.

Kondisi rumah Rudi sungguh memprihatinkan. Di bangunan dari anyaman bambu berdiamter 4×5 itu hanya terdapat kamar yang sering bocor. Lantainya masih tanah, dan memasak juga masih menggunakan tungku bakar. Kadang memakai gas jika ada uang untuk membeli gas.

Rudi memilih bertahan di gubuk itu bersama foto-foto ibunya. Ia tidak mau tinggal dengan ayahnya yang sudah menikah dengan wanita lain dan memiliki anak dari isteri keduanya.

”Saya tidak mau menyusahkan ayah karena dia sudah memiliki dan memilik keluarga sendiri. Saya tinggal di sini merawat rumah peninggalan ibu,” ujarnya ketika disambangi  di gubuk reotnya.

Bocah Kelas 1 SMAN 2 Sumenep itu, belum tersentuh oleh pemerintah di tengah APBD kita itu 2,1 triliun. Beberapa tetangga dekat ingin memperjuangkan nasibnya dengan cara mengajukan permohonan bedah rumah, namun mereka juga bingung bagaimana caranya.

Ah, jangan bermimpi mendapatkan rumah yang layak dari pemerintah, soal listrik saja, Rudi harus numpang kepada tetangganya sendiri agar lampu di gubuknya tetap menyala dan bisa belajar.

“Listrik menumpang kepada tetangga. Mujur, ia diusahakan oleh salah satu gurunya agar tetap sekolah walaupun hidup sebatangkara,” jelas Eka Ferdiansyah, tetangganya.

Eka menambahkan untuk sampai ke sekolah, Rudi harus menahan rasa tidak enak kepada teman-temannya, terutama sahabat yang dekat dengan rumahnya. Sebab setiap hari ia harus menumpang agar sampai ke sekolah.

“Bahkan sudah terbiasa, ia hanya menjadi penonton saat teman-teman sebanyanya jajan di sekolah, ia harus kuat menelan pahit yang ia rasakan menjadi siswa miskin,” ungkapnya seperti dilansir dari Koran Madura.

Eka terus bercerita tentang derita Rudi. Sejatinya, ia ingin sekali membantunya keluar dari derita yang menggurirta. Hendak cari sumbangan dana ingin memperbaiki rumahnya yg hanya dari anyaman bambu itu seolah menemukan jalan buntu. “Sekarang atap rumahnya sudah mulai hancur diterjang angin. Apalagi ketika hujan, sungguh saya tidak tega melihatnya. Ia harus menunggu belas kasihan dari warga untuk makan,” tegasnya.

Eka pun tidak bisa berbuat apa-apa, hendak diajak ke rumahnya, Rudi selalu menolaknya. Sebab ia tidak mau menyusahkan orang lain. Lebih baik ia menanggung beban sendiri daripada menambah beban orang lain. Eka dan tetangga yang lain selalu mengajaknya tinggal bersama, namun selalu menolak. Ia lebih baik berteman dengan sepi di biliknya yang reot itu daripada memberi beban untuk orang lain.

Derita Rudi mengingatkan kita pada kisah anak yang dikisahkan pada Laskar Pelanginya Andrea Herata. Dalam poisis terjepit, anak-anak itu sungguh memiliki cita-cita tinggi untuk terus belajar dan berjuang untuk sekolah. Rudi pun sebaliknya, ditengah himpitan hidup yang menggurita, ia tetap punya asa untuk bisa bersekolah walaupun menjadi siswa yang aneh di antara siswa-siswa yang lain. Sebab di saat yang lain punya uang saku, Rudi harus berangkat dengan kosong, hanya tas kusut dengan peralatan belajar seadanya. Baginya, yang penting ia tetap sekolah dan bisa menjadi siswa berprestasi. Sehingga ia tetap terus bisa sekolah. (*)

Foto Koran Madura SUMENEP (BeritaFajar.Co) – Bocah berumur 15 tahun, Achmad Rudi Hartono, bertahan hidup di  gubuk tua di Desa Batuan, Keca...

Teladan, Inilah Lima Petugas Kebersihan Jujur

 

BeritaFajar.Co – Barangkali sudah menjadi mafhum bahwa belakangan ini, susah mencari orang jujur di negeri ini. Anggapan itu mungkin terasa benar jika melihat praktek kecurangan yang dilakukan oknum tertentu di berbagai tempat.

Namun sepertinya anggapan itu tak berlaku bagi lima sosok sederhana di bawah ini. Menemukan uang ratusan juta di tempat umum, kelima orang ini lebih memilih mengembalikan dari menggunakannya untuk kebutuhan pribadi.

Berikut Lima petugas kebersihan yang berhati mulia itu, seperti dihimpu ndari banyak sumber


1. Office boy Bank Syariah Mandiri, Bekasi Temukan Uang Rp 100 juta.

Agus Chaerudin (35), seorang office boy di Bank Syariah Mandiri, Bekasi, menemukan uang Rp 100 juta di balik tempat sampah kantornya. Peristiwa ini terjadi pada Bulan Ramadan 4 Agustus 2012 silam. Saat itu kantor sudah sepi. Seperti biasa Agus membereskan kantor sebelum pulang.

Bila melihat di balik tempat sampah dia menemukan uang pecahan Rp 100 ribu dalam 10 ikatan. Agus tak berani menyentuh uang itu, dia lalu memanggil penjaga. Satpam kemudian melaporkan kepada staff bank.

Uang dihitung dan ada Rp 100 juta. Ternyata uang itu bukan milik pelanggan, tetapi milik bank. Uang itu putus karena ketidak hati-hatian seorang kasir. Karena kejujurannya, Agus diberi hadiah Rp 1,75 juta dan piagam penghargaan.

2. Petugas Kebersihan di Mall Kota Kasablanka, Jakarta. Temukan Rp 100 juta di dalam toilet.

Sikap jujur juga ditunjukkan oleh seorang petugas kebersihan di Mall Kota Kasablanka, Jakarta. Petugas bernama Mohd itu menemukan uang Rp 100 juta di dalam sebuah toilet.

Ia pun lantas memilih mengembalikan uang yang ditemuinya secara tak sengaja itu. Atas kejujurannya, manajemen memberikan penghargaan kepada Chin dengan mengajaknya makan malam bersama para petinggi manajemen.

“Malam ini kita mengajak makan malam Bapak Mulyadi sebagai penghargaan atas kejujurannya. Kita sangat senang dan berharap dapat mencontoh sikap terpujinya. Makan malam juga diikuti oleh CFO, CFO, GM Operation, Senior Manager Learning Center, Sr Manager Operation , dan Sr Head of Service Kota Kasablanka, “seperti dikutip dari akun media sosial Adi Permadi, yang merupakan President Director PT. Sinar Jernih Sdn sebagian waktu lalu.

3. Petugas Kebersihan Paragon Hotel & Residences, Solo. Cari tas berisi Rp 190 juta.

Seorang petugas kebersihan di Paragon Hotel & Residence, Solo, mendapatkan penghargaan Golden Reward dari pihak manajemen. Penghargaan ini merupakan penghargaan terhadap kejujuran Wanto (25), yang mengembalikan tas berisi uang tunai ratusan juta milik seorang pengunjung yang tertinggal.

Kejadian bermula ketika Wanto melaksanakan tugasnya dengan membersihkan lantai resto seperti biasa. Dia melihat sebuah tas tergeletak di atas meja. Kira-kira setengah jam tak ada orang yang mengambil tas itu. Wanto pun mengambil tas tersebut untuk mengamankannya.

Ternyata, tas berwarna hitam itu berisi satu handphone dan setumpuk uang senilai RM 190 juta. Wanto lalu menyerahkan tas tersebut kepada petugas keamanan.

Namun tak lama kemudian, ada pria yang sudah agak tua masuk ke dalam restoran. Pria itu mengaku sebagai pemilik tas tersebut. Sesuai prosedur, Wanto menanyakan isi tas tersebut. Ternyata jawaban pelanggan itu tepat. Wanto pun menyerahkan tas hitam itu kepada pemiliknya.

Pihak manajemen lantas memberikan apresiasi atas kejujuran Wanto. Perusahaan multinasional tersebut menganugerahkan Golden Heart Award pada Februari 2016 kemarin. Wanto dianggap memiliki kejujuran dan integritas tinggi dalam bekerja.

4. Seorang Karyawan Walmart Temukan Rp 200 juta dalam Amplop.

Seorang karyawan Walmart di Washington, Amerika Serikat, bernama Bismark Mensah menemukan uang berjumlah besar saat ia sedang bekerja.

Kejadian bermula ketika ia sedang mengumpulkan troli di tempat parkir. Namun saat itu ia menemukan sebuah amplop yang berisi uang lebih dari Rp 200 juta. Tanpa pikir panjang, ia langsung mengejar mobil customer yang meninggalkannya dan mengembalikan uang yang jatuh tasnya.

Uang tersebut ternyata milik seorang sepasang kekasih, Leona Wisdom dan Gary Elton yang baru saja mendapatkan bayaran dari penjualan rumahnya. Mensah menolak semua bentuk hadiah sebagai aksinya ini, bahkan ia juga menolak untuk diajak makan bersama. Karena aksinya ini, Mensah diberikan penghargaan “Integritas dalam Aksi”.

5. Petugas Kebersihan Bioskop Temukan Rp 240 juta Milik Penonton.

Christopher Montgomery merupakan petugas kebersihan di sebuah bioskop. Saat sedang membersihkan kursi-kursi penonton ia menemukan sebuah dompet yang berisi lebih dari Rp 240 juta. Dari menyimpannya, ia langsung memberikan dompet tersebut kepada pengurusnya, yang memastikan bahwa dompet tersebut kembali kepada pemilik asli.

diketahui uang tersebut dimiliki oleh seorang pemilik bisnis kecil yang pada saat menonton tidak menyadari bahwa dompetnya jatuh ke lantai. Ia mengatakan bahwa uang itu adalah uang yang mau ia setorkan ke bank. Meskipun Montgomery ditawarkan uang hadiah, ia menolaknya.

sumber :ektawa.com

  BeritaFajar.Co – Barangkali sudah menjadi mafhum bahwa belakangan ini, susah mencari orang jujur di negeri ini. Anggapan itu mungkin tera...

KH Mohammad Habibullah, Sosok Ulama Patuh dan Berakhlak Mulia (3-habis)

SUMENEP (BeritaFajar.Co) - Menurut Fadlur Rahman, 30, asisten pribadi KH Mohammad Habibullah, Desa Kalabaan, Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, pendiri pondok pesantren Al-Is’af, merupakan teladan yang baik.

Menurutnya, Kiai Habib sangat tunduk dan patuh terhadap gurunya. Baik di Ponpes Annuqayah, Sidogiri, maupun di Mambaul Ulum. Bahkan, saat beliau diserang penyakit keras, sikap hormat dan patuh terhadap guru tetap ditunjukkan.

Saat Kiai Habib dirawat secara intens di rumah sakit, KH Ahmad Basyir Abdullah Sajjad (kiai Annuqayah) menjenguknya. ”Setibanya di ruangan, Kiai Habib sontak langsung duduk dan menundukkan kepalanya. Padahal, waktu itu beliau diinfus,” katanya.

Sikap hormatnya terhadap guru dan tatakramanya dalam bermasyarakat tercermin dalam beberapa kitab karangannya. Kiai Habib banyak mengarang kitab yang berkaitan dengan akhlakul karimah. Para santri selalu terkesan dengan ketokohan Kiai Habib. Bahkan, akhlak mulia dan kepatuhan terhadap gurunya selalu dicontoh masyarakat.

Sementara itu, KH Latfan, putra Kiai Habib, mengatakan, banyak hal yang dicontoh dari sosok ayahandanya. Yang paling berkesan adalah kepatuhan dan ketundukkannya terhadap perintah guru.

Kemudian, jiwa kepenulisannya yang amat produktif hingga usia tua selalu menjadi inspirasi baginya. ”Semoga karya beliau bermanfaat dan menjadi amal yang terus mengalir,” tandasnya. (*)

Sumber : http://radarmadura.jawapos.com/,

SUMENEP (BeritaFajar.Co) - Menurut Fadlur Rahman, 30, asisten pribadi KH Mohammad Habibullah, Desa Kalabaan, Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupat...

Inilah Kitab Karya Familiar KH Mohammad Habibullah (2)

KH Mohammad Habibullah Roi (ist)
SUMENEP (BeritaFajar.Co) - Kiai Habib –panggilan KH Mohammad Habibullah Rois– lahir di Desa Kalabaan, Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, pada 1935.

Kiai Habib terkenal sebagai sosok pengarang kitab. Karyanya terkenal di mana-mana. Bahkan, pesantren-pesantren di Madura banyak yang menggunakan kitab hasil karangannya. Salah satu karyanya yang familier yaitu, Kitab Tarbiyatu Al-sibyan. Kitab ini berisi pembelajaran tatakrama terhadap orang tua, dalam bergaul, dan bermasyarakat.

Kemudian, kitab Fath al-Jannah wa Washiyyat al-Azwaj. Kitab yang berisi keutamaan mencari ilmu ini rampung penulisannya pada 3 Februari 1987. Beberapa kitab lain hasil karya beliau, di antaranya, Dalil al-Nisa’, Minhaj al-Irsyad, Syarah Mandzumatu al-Risalah, dan masih banyak karangan lainnya.

Pada 1960, Kiai Habib mendirikan Pondok Pesantren Al-Is’af. Nama itu memiliki arti membantu dan menolong. Sejak berdiri hingga sekarang, pesantren ini konsisten menggunakan sistem pembelajaran salafiyah. Yakni, hanya memberikan pelajaran agama Islam dan tidak memasukkan pelajaran ilmu umum.

Ada yang membanggakan dari keberadaan ponpes tersebut. Pesantren ini enggan menerima bantuan dari pemerintah. Baik berupa beasiswa bagi santrinya maupun biaya pembangunan ponpes.

Fadlur Rahman, 30, asisten pribadi Kiai Habib semasa hidup, mengatakan, Kiai Habib selalu mewanti-wanti untuk tidak menerima bantuan dari pemerintah. Beliau juga meminta kepada sanak keturunannya untuk mempertahankan sistem pembelajaran klasik yang dianut sejak puluhan tahun silam itu.

Bahkan, awal mula pendirian pesantren itu, bukan tidak ada pihak pemerintah yang menawarkan bantuan. Tapi, beliau menolak. Pembangunan gedung pesantren murni dari hasil jerih payah Kiai Habib dan sebagian swasembada wali santri.

Fadlur mengatakan, hasil penjualan kitab karya Kiai Habib digunakan untuk membangun pesantren. Sedikit demi sedikit, pesantren itu berkembang pesat dan memiliki ratusan santri. (*)

KH Mohammad Habibullah Roi (ist) SUMENEP (BeritaFajar.Co) - Kiai Habib –panggilan KH Mohammad Habibullah Rois– lahir di Desa Kalabaan, Kecam...

KH Mohammad Habibullah, Ulama dan Penulis Produktif (1)

KH Mohammad Habibullah bin Rois bin Ibrahim (ist)
SUMENEP (BeritaFajar.Co) - Ketika ke Kecamatan Gululuk-Guluk, maka berkisar lima ratus meter ke arah barat dari Kecamatan Guluk-Guluk, Sumenep, Madura, Jawa Timur, terdapat Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Is’af. Lembaga pendidikan Islam ini menganut sistem pembelajaran salaf.

Pesantren yang memiliki sekitar 500 santri ini terkenal antibantuan dari pemerintah. Selain itu, pengasuh pertamanya, yakni Almarhum KH Mohammad Habibullah bin Rois bin Ibrahim terkenal sebagai pengarang kitab yang produktif.

Nama KH Mohammad Habibullah bin Rois bin Ibrahim tidak asing lagi di kalangan para kiai Sumenep. Karya-karyanya banyak dijadikan bahan pembelajaran di pesantren-pesantren Sumenep dan luar Jawa.

Berdasarkan data dari Ponpes Al-Is’af, Kiai Habib –panggilan KH Mohammad Habibullah Rois– lahir di Desa Kalabaan, Kecamatan Guluk-Guluk, pada 1935. Beliau putra dari KH Rois Ibrahim dan Nyai Aliyah yang merupakan putri dari KH Idris Patapan.

Kiai Habib pernah nyantri di Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk pada 1948. Kemudian pada 1952, melanjutkan pendidikannya di Ponpes Sidogiri, Pasuruan. Selang beberapa tahun, Kiai Habib pamit meninggalkan ponpes dengan sistem salaf itu untuk menunaikan ibadah haji.

Sepulang dari tanah suci beliau menghadap KH Ilyas Syarqawi yang tak lain adalah gurunya di Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk. Tujuannya, melanjutkan pengembaraan ilmunya ke Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan.

Pada 1960, Kiai Habib yang lekat dengan sebutan kiai jurnalis itu melepas masa lajangnya. Beliau menikah dengan Nyai Ruqayyah. Dari hasil perkawinannya, beliau dikaruniai tiga orang anak. Yakni, Nyai Elliyah, Almarhum KH Niqris Habibi, dan Nyai Hisbatul Afiyah.

Kemudian, Kiai Habib menikah lagi dengan Hj Aminah dan dikaruniai dua orang putra. Yakni, KH Latfan dan MD. Khairul Kayyis. Dengan istri terakhirnya, Hj Habibah, Kiai Habib dikaruniai delapan anak. Yakni, Tiklamah Ikasati, Khairatul Adibah, Iqlilus Sadat, Jazilun Nazal, Dianatul Hazna’, dan Salilis Syarifah. Kemudian ada dua putranya lagi yang sudah meninggal dunia. (*)

KH Mohammad Habibullah bin Rois bin Ibrahim (ist) SUMENEP (BeritaFajar.Co) - Ketika ke Kecamatan Gululuk-Guluk, maka berkisar lima ratus met...

Jad, Si Anak Yahudi Mengislamkan Enam Juta Orang

Muslim Kenya (repbulika.co.id)  
BeritaFajar.Co - Jad adalah seorang pria keturunan Yahudi. Di pertengahan hidupnya, ia memeluk agama Islam. Setelah bersyahadat, ia mengubah namanya menjadi Jadullah Al-Qur'ani.

Jad pun memutuskan hidupnya untuk berkhidmat dalam dakwah Islamiyah. Dia berdakwah ke negara-negara Afrika dan berhasil mengislamkan jutaan orang.

Sejatinya, Ibunda Jadullah adalah Yahudi fanatik, seorang dosen di salah satu lembaga tinggi. Namun di tahun 2005, dua tahun setelah kematian Jadullah, ibunya memeluk agama Islam.

Ibunda Jadullah menuturkan, putranya menghabiskan usianya dengan berdakwah. Dia mengaku telah melakukan beragam cara untuk mengembalikan putranya pada agama Yahudi. Namun, selalu gagal.

''Mengapa seorang Ibrahim yang tidak berpendidikan dapat mengislamkan putraku,'' ujar sang ibu terheran-heran. Sedangkan dia yang berpendidikan tinggi tak mampu menarik hati putranya sendiri kepada agama Yahudi.

                                                                        ***

Kisah Jad dan Ibrahim

Lima puluh tahun lalu di Prancis, Jad bertetangga dengan seorang pria Turki berusia 50 tahun. Pria tersebut bernama Ibrahim. Ia memiliki toko makanan yang letaknya di dekat apartemen tempat keluarga Jad tinggal. Saat itu usia Jad baru tujuh tahun.

Jad seringkali membeli kebutuhan rumah tangga di toko Ibrahim. Setiap kali akan meninggalkan toko, Jad selalu mengambil coklat di toko Ibrahim tanpa izin alias mencuri.

Pada suatu hari, Jad lupa tak mengambil coklat seperti biasa. Tiba-tiba, Ibrahim memanggilnya dan berkata bahwa Jad melupakan coklatnya. Tentu saja Jad sangat terkejut, karena ternyata selama ini Ibrahim mengetahui coklatnya dicuri. Jad tak pernah menyadari hal tersebut, dia pun kemudian meminta maaf dan takut Ibrahim akan melaporkan kenakalannya pada orang tua Jad.

"Tak apa. Yang penting kamu berjanji tidak akan mengambil apapun tanpa izin. Lalu, setiap kali kamu keluar dari sini, ambillah cokelat, itu semua milikmu!" ujar Ibrahim. Jad pun sangat gembira.

Waktu berlalu, tahun berubah. Ibrahim yang seorang Muslim  menjadi seorang teman bahkan seperti ayah bagi Jad, si anak Yahudi. Sudah menjadi kebiasaan Jad, dia akan berkonsultasi pada Ibrahim setiap kali menghadapi masalah.

Dan setiap kali Jad selesai bercerita, Ibrahim selalu mengeluarkan sebuah buku dari laci lemari, memberikannya pada Jad dan menyuruhnya membuka buku tersebut secara acak. Saat Jad membukanya, Ibrahim kemudian membaca dua lembar dari buku tersebut kepada Jad dan memberikan saran dan solusi untuk masalah Jad. Hal tersebut terus terjadi.

Hingga berlalu 14 tahun, Jad telah menjadi seorang pemuda tampan berusia 24 tahun. Sementara Ibrahim telah berusia 67 tahun.

Hari kematian Ibrahim pun tiba. Namun sebelum meninggal, dia telah menyiapkan kotak berisi buku yang selalu dia baca acapkali Jad berkonsultasi. Ibrahim menitipkannya kepada anak-anaknya untuk diberikan kepada Jad sebagai sebuah hadiah.

Mendengar kematian Ibrahim, Jad sangat berduka dan hatinya begitu terguncang. Karena selama ini, Ibrahim satu-satunya teman sejati bagi Jad, yang selalu memberikan solusi atas semua masalah yang dihadapinya.

Selama 17 tahun, Ibrahim selalu mempelakukan Jad dengan baik. Dia tak pernah memanggil Jad dengan "Hei Yahudi" atau "Hei kafir" bahkan Ibrahim pun tak pernah mengajak Jad kepada agama Islam.

                                                                               ***

Hari berlalu, setiap kali tertimpa masalah, dia selalu teringat Ibrahim. Jad pun kemudian mencoba membuka halaman buku pemberian Ibrahim. Namun, buku tersebut berbahasa arab, Jad tak bisa membacanya. Ia pun pergi menemui salah satu temannya yang berkebangsaan Tunisia. Jad meminta temannya tersebut untuk membaca dua lembar dari buku tersebut. Persis seperti apa yang biasa Ibrahim lakukan untuk Jad.

Teman Jad pun kemudian membaca dan menjelaskan arti dua lembar dari buku yang dia baca kepada Jad. Ternyata, apa yang dibaca sangat pas pada masalah yang tengah dihadapi Jad. Temannya pun memberikan solusi untuk masalah Jad.

Rasa keingin tahuannya terhadap buku itu pun tak bisa lagi dibendung. Ia pun menanyakan pada kawannnya, "Buku apakah ini?" tanyanya. Temannya pun menjawab, "Ini adalah Alquran, kitab suci umat Isam," ujarnya.

Jad tak percaya sekaligus merasa kagum. Jad pun kembali bertanya, "Bagaimana cara menjadi seorang Muslim?"

Temannya menjawab, "Dengan mengucapkan syahadat dan mengikuti syariat." Kemudian, Jad pun memeluk agama Islam.

Setelah menjadi Muslim, Jad mengubah namanya menjadi Jadullah Al-Qur'ani. Nama tersebut diambil sebagai ungkapan penghormatan kepada Al-Qur'an yang begitu istimewa dan mampu menjawab semua permasalahan hidupnya selama ini.

Sejak itu, Jad memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupya untuk menyebarkan ajaran yang ada pada Alquran.

Suatu hari, Jadullah membuka halaman Alquran pemberian Ibrahim dan menemukan sebuah lembaran. Lembaran tersebut bergambar peta dunia, ditandatangani Ibrahim dan bertuliskan ayat An-Nahl 125.

"Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik..."  Jad pun kemudian yakin bahwa lembaran tersebut merupakan keinginan Ibrahim untuk dilaksanakan oleh Jad.

Jadullah pun meninggalkan Eropa dan pergi berdakwah ke negara-negara Afrika. Salah satu negara yang dikunjunginya yakni Kenya, di bagian selatan Sudan dimana mayoritas penduduk negara tersebut beragama Kristen.

Jadullah berhasil mengislamkan lebih dari enam juta orang dari suku Zolo. Jumlah ini hanya dari satu suku tersebut, belum lagi suku lain yang berhasil dia Islamkan. Subhanallah.

sumber : republika.co.id

Muslim Kenya (repbulika.co.id)   BeritaFajar.Co - Jad adalah seorang pria keturunan Yahudi. Di pertengahan hidupnya, ia memeluk agama Islam...


Top